Tangis Guru Honorer Pecah di DPR, PGRI Soroti Gaji Rendah dan Dampak Program Makan Bergizi Gratis

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 8 Februari 2026 - 12:40 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indah Permata Sari menangis saat sidang di DPR ketika menyampaikan bagaimana ia mengemban lebih dari satu pekerjaan, di samping mengajar, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Indah Permata Sari menangis saat sidang di DPR ketika menyampaikan bagaimana ia mengemban lebih dari satu pekerjaan, di samping mengajar, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

tagarutama.com, Jakarta – Tangis haru tak terbendung dari wajah Indah Permata Sari saat menyampaikan keluhannya di hadapan anggota DPR dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), awal pekan ini, Senin (2/2/2026).

Guru sekolah dasar negeri di wilayah Cibitung, sekitar 50 kilometer dari Jakarta itu, mengaku sudah terlalu lama menjalani profesi pendidik dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.

Dengan suara bergetar, Indah menceritakan realitas hidup yang harus ia jalani selepas mengajar di sekolah.

“Sepulang mengajar, saya masih harus bekerja lagi mengantar dan menjemput laundry, Pak. Kalau tidak begitu, kebutuhan rumah tangga tidak bisa terpenuhi,” ujar Indah sambil menahan tangis di hadapan anggota dewan.

Ia berharap pemerintah memberi perhatian serius terhadap nasib guru honorer, khususnya mereka yang hingga kini masih menerima upah di bawah standar minimum.

Ratusan Ribu Guru Honorer Masih Bergaji Rendah

PGRI dalam forum tersebut mengungkapkan, jumlah guru honorer dan guru tidak tetap di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 700 ribu orang. Data tersebut diperkuat oleh kajian Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS).

Berdasarkan hasil survei IDEAS bersama GREAT Edunesia tahun 2025, kondisi kesejahteraan guru honorer masih sangat memprihatinkan. Sebanyak 74 persen guru honorer tercatat menerima penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan. Bahkan, sebagian di antaranya masih memperoleh gaji di bawah Rp500 ribu.

Perwakilan PGRI juga mengungkapkan bahwa persoalan penghasilan tidak hanya dialami guru honorer, tetapi juga guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kami masih menemukan guru PPPK yang gajinya jauh dari layak. Salah satu contoh di Dompu, Nusa Tenggara Barat, hanya sekitar Rp139 ribu,” ungkap perwakilan PGRI dalam pemaparannya di ruang rapat DPR.

Anggaran Pendidikan Dialihkan untuk Program MBG

Di tengah persoalan kesejahteraan guru yang belum menemukan solusi, pemerintah tahun ini mengumumkan kebijakan pengalokasian hampir sepertiga anggaran pendidikan nasional untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga :  Siswa SIT As Salaam Fakfak Gelar Doa Bersama dan Penggalangan Dana untuk Korban Banjir Aceh dan Sumatera

Total anggaran pendidikan pada tahun berjalan mencapai Rp769,1 triliun. Dari jumlah tersebut, Badan Gizi Nasional sebagai pelaksana utama program MBG memperoleh anggaran sebesar Rp335 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp71 triliun.

Sebanyak 67 persen dana MBG disebut bersumber dari anggaran pendidikan, sementara sisanya diambil dari anggaran kesehatan, fungsi ekonomi, serta dana cadangan pemerintah.

Dalam policy brief yang dirilis IDEAS pada Januari 2026, lembaga tersebut menilai bahwa alokasi dana untuk MBG berpotensi menggeser prioritas pembiayaan pendidikan.

Peneliti IDEAS, Muhammad Anwar, menyebut dana yang digelontorkan untuk program makan gratis sebenarnya dapat digunakan untuk memperkuat akses pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik.

“Dengan anggaran sekitar Rp156,6 triliun, negara seharusnya bisa memastikan seluruh anak menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, memberikan beasiswa kepada hampir tiga juta mahasiswa miskin, serta menaikkan gaji 2,1 juta guru honorer hingga setara upah minimum provinsi,” jelas Anwar.

Ia menambahkan, pemenuhan gizi penting, namun keberlanjutan pendidikan juga bergantung pada kondisi guru.

“Kita tidak hanya bicara soal piring makanan yang habis dalam beberapa jam, tetapi masa depan pendidikan anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Kekhawatiran Terhadap Gaji Guru di Daerah

Kebijakan pengalihan sebagian besar anggaran pendidikan untuk MBG memunculkan kekhawatiran dari berbagai kalangan.

Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru, Iman Zanatul Haeri, menilai keputusan tersebut berpotensi memperberat situasi guru, khususnya di daerah.

“Dengan anggaran yang ada saja, kesejahteraan guru belum terjamin. Sekarang sekitar Rp223,5 triliun dialihkan, ini jelas membuat ruang fiskal untuk guru semakin sempit,” kata Iman.

Ia mengungkapkan, sejak program MBG mulai berjalan tahun lalu, banyak guru mengeluhkan keterlambatan pembayaran honor.

Menurutnya, salah satu dampak paling terasa adalah berkurangnya pagu anggaran yang ditransfer ke daerah untuk membiayai kebutuhan pendidikan, termasuk honor guru honorer.

“Alokasi untuk daerah yang sebelumnya sudah kecil, kini semakin tergerus karena adanya MBG,” ujarnya.

Baca Juga :  PKS Papua Barat Gelar Rakerwil 2025: Kokohkan Barisan, Tingkatkan Pelayanan, Raih Kemenangan

Kisah Agustinus: Mengabdi 23 Tahun, Gaji Terus Menyusut

Kondisi tersebut juga dialami Agustinus Nitbani, guru honorer di sebuah SD negeri di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia telah mengabdi selama 23 tahun sebagai tenaga pendidik.

Beberapa waktu lalu, video pengakuan Agustinus tentang kondisi penghasilannya beredar luas di media sosial dan menuai simpati publik.

Dalam video tersebut, Agustinus menceritakan perjalanan panjangnya sebagai guru honorer.

“Saya mulai mengajar tahun 2004. Gaji waktu itu hanya Rp50.000. Baru pada 2017 naik menjadi Rp100.000 per bulan. Tahun 2021 meningkat menjadi Rp600.000, tapi sekarang justru turun. Semester ini hanya sekitar Rp223.000 per bulan,” tuturnya.

Setelah videonya viral, pihak sekolah tempat Agustinus mengajar diketahui dipanggil oleh dinas pendidikan setempat untuk dimintai klarifikasi.

Meski demikian, Agustinus menyatakan tidak berniat meninggalkan profesinya.

“Sejak merintis sekolah ini, saya bertekad tetap mengajar sampai usia pensiun. Saya ingin tetap berkontribusi mencerdaskan anak-anak,” ungkapnya.

Pengangkatan Pegawai Dapur MBG Picu Kekecewaan

Di tengah tekanan yang dihadapi para guru honorer, pemerintah juga memutuskan mengangkat sekitar 32 ribu pegawai inti dapur MBG sebagai aparatur sipil negara berstatus PPPK.

Kebijakan ini memicu kekecewaan di kalangan guru.

Jatmiko, seorang guru di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, yang sebelumnya berstatus honorer selama enam tahun, menilai langkah tersebut tidak mencerminkan keadilan.

“Keputusan ini sangat melukai perasaan guru-guru honorer. Banyak yang sudah puluhan tahun mengabdi tanpa kepastian status, sementara pegawai dapur justru lebih dulu diangkat,” kata Jatmiko.

Ia mempertanyakan prioritas pemerintah dalam menetapkan kebijakan kepegawaian.

“Yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan seharusnya diselesaikan lebih dulu. Di mana urgensinya pegawai dapur diangkat menjadi PPPK, sementara guru masih terkatung-katung?” ujarnya.

Berbagai suara dari guru di lapangan tersebut kini menambah tekanan publik terhadap pemerintah agar kebijakan anggaran pendidikan dan pengangkatan aparatur sipil negara benar-benar berpihak pada peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik. (TU 01)

Follow WhatsApp Channel tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PAGELARAN SENI I FKIP UMPB: LEDAKAN KREATIVITAS MAHASISWA GUNCANG AULA UTAMA
Minimalisir Risiko Kejahatan Cyber, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Papua Barat gelar Talk Show Cerdas Bermedia aman dari kejahatan siber
Universitas Muhammadiyah Papua Barat Gelar Wisuda ke-XII, Kukuhkan 90 Sarjana
Kolaborasi KKN UNIMUDA Sorong dan Program GERTAK Fakfak Warnai Penanaman Kelapa Hibrida di Kampung Werba Utara
Tingkatkan Minat Literasi Numerasi, Himapro UMPB Gelar Lomba Cerdas Cermat SD/MI se-Kabupaten Manokwari
Muhammad Nur Resmi Jabat Direktur Polinef 2025–2029, Bupati Samaun Titipkan Harapan Besar untuk SDM Fakfak
Juliyatmono Dorong Gaji Guru Capai Rp 25 Juta: Guru adalah Fondasi Peradaban
Tinjau Ujian Sekolah, Wakil Bupati Manokwari Apresiasi Fasilitas SMPIT Insan Mulia Manokwari

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 12:40 WIT

Tangis Guru Honorer Pecah di DPR, PGRI Soroti Gaji Rendah dan Dampak Program Makan Bergizi Gratis

Jumat, 12 Desember 2025 - 13:53 WIT

PAGELARAN SENI I FKIP UMPB: LEDAKAN KREATIVITAS MAHASISWA GUNCANG AULA UTAMA

Kamis, 4 Desember 2025 - 20:00 WIT

Minimalisir Risiko Kejahatan Cyber, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Papua Barat gelar Talk Show Cerdas Bermedia aman dari kejahatan siber

Senin, 1 Desember 2025 - 08:03 WIT

Universitas Muhammadiyah Papua Barat Gelar Wisuda ke-XII, Kukuhkan 90 Sarjana

Sabtu, 22 November 2025 - 18:33 WIT

Kolaborasi KKN UNIMUDA Sorong dan Program GERTAK Fakfak Warnai Penanaman Kelapa Hibrida di Kampung Werba Utara

Berita Terbaru