tagarutama.com, Jakarta – Olahraga lari yang menjadi tren dalam beberapa tahun belakangan ini tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran fisik, tetapi juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan mental.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas berlari dapat membantu meredakan stres, meningkatkan suasana hati, hingga memperbaiki kualitas tidur. Tidak heran jika lari kini menjadi salah satu metode sederhana namun efektif untuk menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan hidup modern.
Siti Shafia Rizmarini Ilham, S.Psi., M.M., CHCP-A, seorang psikolog olahraga yang juga rutin berlari, membenarkan bahwa olahraga lari memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental seseorang.
Dalam wawancara singkat via telepon pada Senin malam (17/11), Arini, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dalam psikologi olahraga terdapat istilah runner’s high, yakni kondisi euforia yang muncul setelah seseorang berlari.
“Runner’s high adalah perasaan euforia atau kegembiraan sementara yang muncul setelah berlari,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa fenomena tersebut terjadi karena tubuh melepaskan senyawa kimia seperti endorfin dan endokannabinoid. Kedua zat ini berperan penting dalam menciptakan rasa nyaman dan tenang setelah berlari.
“Endorfin membantu meredakan stres dan memberikan sensasi nyaman, sementara endokannabinoid, zat alami yang menyerupai kandungan dalam ganja menimbulkan rasa tenang dan puas. Keduanya bekerja sama menghasilkan kondisi mental yang ringan dan menyenangkan,” tambah Arini.
Menurutnya, berlari juga dapat menjadi bentuk terapi kecemasan. Gerakan ritmis saat berlari, seperti pola napas dan langkah kaki, membantu menenangkan otak dari pemicu kecemasan. Teknik ini dikenal sebagai running meditation.
Ada durasi dan intensitas tertentu agar aktivitas lari memberikan manfaat langsung bagi kesehatan mental.
“Menurut jurnal psikologi, durasi 15 hingga 30 menit per sesi sudah cukup untuk memicu pelepasan endorfin. Frekuensi idealnya 3 hingga 5 kali per minggu, sementara intensitas lari dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu,” ungkapnya.
Ia juga mengutip penelitian Journal of Clinical Psychology tahun 2020 yang menunjukkan bahwa individu yang rutin berlari memiliki tingkat kecemasan lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak aktif berolahraga.
Sebagai seorang psikolog olahraga, Arini tidak menampik bahwa motivasi utamanya berlari adalah untuk menjaga kesehatan mental, selain menjaga kebugaran fisik.
“Motivasi utama saya untuk tetap berlari adalah menjaga kesehatan mental. Dengan berlari, saya bisa mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan kualitas tidur,” ujarnya.
Selain itu, aktivitas lari juga membantunya membangun kepercayaan diri.
“Dengan berlari rutin, saya semakin percaya diri karena saya memiliki target yang ingin dicapai,” tambahnya.
Arini berharap semakin banyak orang mulai menjadikan lari sebagai pilihan olahraga utama, karena manfaatnya dapat dirasakan oleh siapa saja.
“Semoga olahraga lari menjadi pilihan utama, karena olahraga adalah aktivitas sederhana yang bisa dilakukan setiap orang dengan penuh kesadaran. Dengan begitu, kesehatan mental dapat lebih terjaga,” pungkasnya. (TU.07)









