tagarutama.com, Jakarta — Korea Selatan resmi memiliki pemimpin baru. Lee Jae-myung, tokoh senior dari Partai Demokrat (DP), keluar sebagai pemenang dalam pemilihan presiden ke-14 yang digelar pada Selasa, 3 Juni 2025. Kemenangan ini diraih di tengah suasana politik yang masih bergejolak usai pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol.
Lee yang kini berusia 61 tahun berhasil mengungguli rivalnya dari Partai Kekuatan Rakyat (PPP), Kim Moon-soo, dengan perolehan suara 49,42%. Partisipasi pemilih mencapai angka impresif 79,4%, tertinggi sejak tahun 1997, menunjukkan betapa besar perhatian publik terhadap arah baru kepemimpinan negara.
“Ini adalah kemenangan rakyat. Saya berjanji akan membangun kembali kepercayaan publik dan memulihkan stabilitas bangsa,” ujar Lee dalam pidato kemenangannya yang disiarkan secara nasional dari markas partai di Seoul.
Dari Gagal Capres ke Kursi Tertinggi Negara
Lee bukanlah sosok baru dalam politik Korea Selatan. Ia memulai kariernya sebagai wali kota Seongnam (2010–2018) dan kemudian menjabat sebagai gubernur Provinsi Gyeonggi hingga tahun 2021. Setelah gagal dalam pemilihan presiden tahun 2022 dengan selisih tipis dari Yoon Suk Yeol, Lee kembali mencalonkan diri dengan tekad lebih besar.
Pada 2022, ia terpilih sebagai anggota Majelis Nasional dari distrik Incheon. Namun langkah politiknya tak selalu mulus. Ia sempat menjadi korban percobaan pembunuhan saat menghadiri acara publik pada Januari 2024, sebuah insiden yang mengguncang negeri. Serangan itu disebut-sebut bermotif politik.
“Saya pernah hampir kehilangan nyawa karena pilihan politik saya. Tapi insiden itu tidak akan pernah mematahkan semangat saya untuk melayani rakyat,” ujar Lee dalam salah satu wawancaranya usai pemilu.
Presiden dari Rakyat Biasa
Dalam memoarnya yang baru dirilis awal tahun ini, Lee menceritakan masa kecilnya yang keras. Ia tumbuh dalam kemiskinan, dan latar belakang pendidikannya yang terbatas sering dijadikan bahan ejekan oleh kalangan elit.
Namun perjalanan hidup yang tidak mudah justru membentuk karakter kepemimpinannya yang tegas dan membumi. Kemenangannya kali ini menjadikannya presiden pertama dari DP yang didukung oleh parlemen mayoritas—memberinya kekuatan politik signifikan untuk menjalankan agenda reformasi yang dijanjikan selama kampanye.
Tantangan Berat di Depan Mata
Meski meraih kemenangan gemilang, Lee menghadapi tantangan besar di awal masa jabatannya. Selain harus memulihkan kepercayaan publik pasca krisis politik, ia juga dibayangi oleh proses hukum yang belum sepenuhnya selesai. Stabilitas nasional, rekonsiliasi antar partai, dan pemulihan ekonomi menjadi pekerjaan rumah utama.
Analis politik menyebut bahwa posisi Lee yang kuat di parlemen akan membantunya mendorong agenda legislatif secara lebih efektif. Namun tekanan publik agar pemerintah baru bekerja cepat dan bersih juga tidak bisa diabaikan.
“Ini bukan hanya soal kemenangan politik, tapi ujian integritas dan keberanian moral untuk membawa Korea Selatan keluar dari krisis,” ungkap Kim Do-hyun, pengamat politik dari Universitas Yonsei.
Dengan langkah yang sudah dimulai, publik Korea Selatan kini menanti, apakah Lee Jae-myung mampu menjadi simbol perubahan yang sesungguhnya atau hanya mengulangi siklus politik yang sama. (TU.01)