tagarutama.com, Fakfak – Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan terus mendorong penguatan komoditas pala sebagai andalan ekonomi daerah. Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni menggelar sosialisasi sekaligus penyusunan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pala Tomandin Fakfak, guna meningkatkan mutu dan daya saing produk di pasar nasional maupun internasional.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Dinas Perkebunan Fakfak(9/4/2026) ini dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan, mewakili Bupati Fakfak. Sebanyak 45 peserta hadir, terdiri dari petani, kelompok tani, pengumpul, pengepul, hingga perwakilan masyarakat perlindungan indikasi geografis Pala Tomandin Fakfak yang memiliki peran penting dalam rantai produksi dan perdagangan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai standar kualitas pala, mulai dari teknik panen yang tepat, penanganan pascapanen, proses pengeringan, hingga sortasi dan pemasaran. Langkah ini dinilai penting untuk menghasilkan pala berkualitas tinggi dengan nilai jual yang lebih kompetitif.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, menegaskan bahwa Fakfak sejak lama dikenal sebagai penghasil pala lonjong dengan karakteristik khas yang membedakannya dari daerah lain di Indonesia.
“Pala Fakfak memiliki aroma yang kuat, bentuk biji yang baik, serta kandungan minyak atsiri yang tinggi. Keunggulan ini menjadi modal utama untuk bersaing di pasar global dan perlu dijaga melalui standar mutu yang jelas,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia menjelaskan, penerapan SNI menjadi instrumen penting dalam menjaga konsistensi kualitas sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar. Melalui sosialisasi ini, para pelaku usaha juga dilibatkan dalam penyusunan draft pedoman pengolahan Pala Tomandin sebagai acuan bersama dalam praktik di lapangan.
“Dengan penerapan standar yang baik, kualitas pala akan lebih terjamin, memiliki klasifikasi yang jelas, serta mampu meningkatkan nilai jual. Ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi pala Fakfak di pasar,” tambahnya.
Selain itu, Widhi mengingatkan pentingnya kedisiplinan petani dalam mengikuti kalender musim panen. Ia menilai, salah satu tantangan yang masih sering terjadi adalah praktik panen sebelum buah benar-benar matang, yang berdampak pada penurunan kualitas.
“Kami mengimbau petani agar memanen sesuai waktu yang tepat. Pala yang dipetik terlalu dini akan menurunkan mutu, termasuk kadar minyak atsirinya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti praktik jual beli pala muda yang dinilai merugikan, baik dari sisi kualitas maupun aspek kepemilikan.
“Sering kali pala yang dijual sebelum waktunya bukan berasal dari kebun sendiri. Ini perlu menjadi perhatian bersama. Membeli pala seperti itu sama saja merugikan petani lain,” katanya.
Menurutnya, disiplin dalam proses panen serta penanganan pascapanen yang tepat seperti pengeringan, sortasi, hingga penyimpanan akan sangat menentukan kualitas akhir produk.
“Jika dipanen dan diolah dengan benar, kualitas pala tetap terjaga, aromanya optimal, dan tentu berdampak pada harga jual yang lebih baik. Ini akan meningkatkan pendapatan petani secara langsung,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber dari PT Papua Global Spices, Hans Sahupala, turut berbagi pengalaman dan metode pengolahan modern yang telah terbukti meningkatkan kualitas pala di pasaran.
Ia menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) sejak dari kebun hingga distribusi.
“Jika proses pengolahan dilakukan sesuai standar, maka harga pala akan ikut meningkat. Kuncinya ada pada konsistensi menjaga kualitas dari hulu ke hilir,” ungkap Hans.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi musim panen Pala Timur dan Pala Barat tahun 2026, di mana produksi biasanya meningkat signifikan. Dengan kesiapan yang matang, diharapkan kualitas hasil panen tetap terjaga di tengah lonjakan produksi.
Sebagai hasil akhir, para peserta menyepakati prosedur pengolahan Pala Tomandin Fakfak yang akan dijadikan panduan praktis bagi petani dan pelaku usaha. Pedoman ini mencakup tahapan panen, pemisahan, pengeringan, hingga penyimpanan, serta kesepakatan mendorong harga yang lebih adil bagi petani.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga reputasi pala Fakfak sebagai rempah unggulan, tetapi juga memperkuat peran komoditas tersebut sebagai pilar ekonomi masyarakat.
Ke depan, Pala Tomandin Fakfak diharapkan mampu menjadi simbol kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan seluruh pelaku usaha di sektor perkebunan pala. (TU.01)










