Tangan-Tangan Penggenggam

Aku mencintaimu dengan segala kedalaman, kelapangan, dan keluasan yang bisa dijangkau oleh jiwaku.

EIZABETH BARRETT BROWNING

Cerita ini berlatar tentang sepasang tangan suamiku. Tangan-tangannya memang tidak halus. Tangan-tangannya adalah bak tangan lelaki yang bekerja keras sepanjang hidupnya. Keduanya begitu terampil, sesekali ceroboh, tetapi hal itu tetap membuatnya memiliki reputasi baik di mataku, juga dimata alat-alat perkakas, dan dia diberi julukan keluarga “sijari slebor” di sisi lain. Kedua tangannya terasa keras, tetapi lembut.

Dengan tangannya itulah suamiku menyelipkan cincin pernikahan ke jariku, 15 tahun yang lalu. Tangan sama yang menggengganm tanganku saat kami duduk berdua.

Saat ini aku masih terperangah dengan diagnosis kankerku beberapa bulan yang lalu. Kanker payudara, yang menjadi sumber utama, telah menyebar ke tulang punggung.

Sejenak aku mencoba melupakan kondisiku yang dibalut penyakit, tabah dan ikhlas. Aku mencoba bertarung dengan waktu disisa diagnosis dokter, tetapi tetap saja Tuhan Dialah penentu segalanya.

Aku terus melihat tangan yang dulu membelaiku dengan penuh kasih sayang, kini dengan lembut membersihkan serta mengeringkan punggungku yang rusak, masih dengan belaian, dan selalu diiringi cinta. Sesekali dia alunkan lagu cinta kenangan bersama, serasa aku terbawa nuansa lagu tersebut sambil mengenang kisah kebersamaanku bersama, begitu indah dan sulit untuk dilupakan, anganku diajak melampaui nalarku.

Tangan-tangan suamiku masih bersamaku, sehabis ini dia hendak mengosongkan pispot dan baginya itu menjadi bentuk kemesraan kami yang baru, dan berkat kedua tangannya, aku tidak merasakan kurangnya kasih sayang.

Tangan-tangan suamiku dulu menyentuh kulit lembut bayi-bayi kami, namun sekarang memegang gagang kursi roda dengan mantap untukku agar aku dapat duduk dengan aman.

Kedua tangannya dengan bangga mengantarkan mangkuk kecil berisi coklat hangat sebagai teman sarapan pagiku bersama roti panggang berisikan keju dan sedikit campuran coklat lumer: sebuah sajian yang indah. Tangannya masih bersamaku tepat dihadapanku tangan itu merapikan selimutku dan mengambilkan obat-obatan ku di apotek.

Saat musim hujan kemarin, jemari kukuh yang dulu menandatangani surat pernikahan kami memegang pena yang berbeda saat dia menandatangani perjanjian untuk tanah di pemakaman setempat, memastikan bahwa kami punya tempat untuk peristirahatan yang terakhir. Tangan-tangan itu tidak pernah takut saat harus melakukan hal-hal yang dibutuhkan.

Ada kalanya, karena ingin menyenangkanku, tangan-tangan suamiku bergetar pelan disertai niat baik. Seperti sekarang; aku menulis catatan ini, sementara suamiku membersihkan lantai kamar mandi dengan bersemangat.

Tangan miliknya bagaikan sihir. Saat menyentuhnya, tangan-tangan itu berbicara mengenai hal-hal yang sudah mereka lihat, apa yang telah kami berdua lampaui dan lakukan selama bertahun-tahun.

Aku selalu mampu mendeskripsikan aroma cat tembok yang khas sebuah rutinitas tahunan yang selalu dilakukannya di saat menjelang hari raya Idul Fitri, dan juga masih tercium wanginya parfum yang selalu digunakan saat hari-hari istimewa bagi kami berdua.

Aku mendengar kisah lama mengenai masa kejayaan seorang laki-laki muda, yang berlari membawa bola football menyeberang lapangan, dan yang berpegang erat ke tiang-tiang ski saat tengah menuruni gunung yang membeku.

Juga tangan-tangan itu masih ku ingat ketika bermain dengan seekor kucing, dikuti dengan cerita sedih bagaimana tangan-tangan itu telah menimang sahabat setianya saat tiba waktunya untuk berpisah.

Genggaman tangan suamiku sepertinya ingin berbicara lantang mengenai hal-hal yang dia sendiri enggan katakan karena merasa malu, atau karena tidak tahu cara mengutarakannya. Mereka akan berkata, apapun kesenangan dan kesedihan serta kesuksesan bahkan kesusahan sekalipun dia tetap mencintaiku sampai sekarang.

Aku mengenal tangan-tangan itu sebaik aku mengenali tangan-tanganku sendiri. Genggaman tangan-tangan suamiku yang selalu menggenggam erat penuh kelembutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *