Kultum Tarawih Malam ke-29 di Masjid Al Munawwarah Fakfak: Jamaah Diajak Bijak Menyikapi Perbedaan Penetapan Idul Fitri

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 21:22 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ustadz H. Jumroni saat menyampaikan kultum di masjid Al Munawwarah Fakfak.

Ustadz H. Jumroni saat menyampaikan kultum di masjid Al Munawwarah Fakfak.

tagarutama.com, Fakfak – Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan salat tarawih malam ke-29 Ramadhan 1447 Hijriah, Rabu (18/3/2026), di Masjid Al Munawwarah Fakfak. Pada kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan pencerahan melalui kultum yang disampaikan oleh Ustadz H. Jumroni, yang mengangkat tema penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan.

Dalam ceramahnya, Ustadz Jumroni menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadhan maupun 1 Syawal dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu rukyat dan hisab.

“Rukyat merupakan proses pengamatan hilal, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu. Metode ini telah digunakan sejak zaman Rasulullah SAW,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rukyat biasanya dilakukan pada tanggal 29 Ramadhan saat matahari terbenam. Jika hilal berhasil terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Namun, jika tidak tampak, maka bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari.

“Malam ini kita berada di tanggal 29 Ramadhan. Besok akan dilakukan rukyat untuk memastikan awal Syawal,” tuturnya.

Baca Juga :  Kultum Ramadhan Malam ke-27, Ustadz Hj. Jumroni Ingatkan Pentingnya Menunaikan Zakat Fitrah

Selain rukyat, Ustadz Jumroni juga memaparkan metode hisab yang berbasis ilmu falak, yakni dengan menghitung posisi dan ketinggian hilal secara matematis. Metode ini juga digunakan oleh sejumlah organisasi Islam di Indonesia.

“Melalui hisab, posisi bulan dapat diketahui secara pasti berdasarkan perhitungan. Ini menjadi salah satu pendekatan dalam menentukan kalender hijriah,” jelasnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Yunus ayat 5 sebagai landasan pentingnya perhitungan waktu dalam Islam.

“Allah SWT berfirman, ‘Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.’ Ini menunjukkan bahwa ilmu perhitungan juga bagian dari tanda kebesaran-Nya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia bersama negara-negara yang tergabung dalam kriteria imkanur rukyat MABIMS menetapkan awal Syawal berdasarkan parameter tertentu, yakni ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 derajat.

Baca Juga :  Penyetoran Perdana Retribusi Pala Melalui Bank Papua: Sinergi Pemerintah Daerah Fakfak dan Pelaku Usaha Perkuat PAD

“Jika mengacu pada perhitungan, ada kemungkinan hilal belum terlihat saat sidang isbat, sehingga Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari. Namun, keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang tersebut,” katanya.

Menutup kultumnya, Ustadz Jumroni mengajak jamaah untuk menyikapi potensi perbedaan Hari Raya Idulfitri dengan sikap terbuka dan saling menghormati.

“Silakan jika ada yang berlebaran pada hari Jumat atau Sabtu. Perbedaan ini adalah hal yang wajar karena didasarkan pada metode yang berbeda. Yang penting adalah kita tetap menjaga ukhuwah,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa rukyat dan hisab bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai dua pendekatan yang sama-sama memiliki dasar ilmiah dan syar’i.

“Keduanya benar dalam kajian masing-masing. Yang harus kita jaga adalah persatuan di tengah keberagaman,” tutupnya. (TU.01)

Follow WhatsApp Channel tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PKS Fasilitasi Ratusan Warga Mudik Gratis, 16 Bus Diberangkatkan ke Enam Kota Tujuan
PW Matahari Pagi Indonesia DKI Jakarta Salurkan Bingkisan Lebaran, Perkuat Solidaritas Sosial di Bulan Ramadan
Kultum Ramadhan Malam ke-27, Ustadz Hj. Jumroni Ingatkan Pentingnya Menunaikan Zakat Fitrah
Kolaborasi Lembaga Islam di Fakfak Gelar Tatsqif Ramadhan, Angkat Tema Al-Qur’an Petunjuk bagi Manusia
Ustadz Usman Abdul Malik: Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Tanpa Meningkatkan Ketakwaan
Malam ke-28 Ramadhan di Masjid Al Munawwarah Fakfak: Ustadz Khamin Sukahar Ingatkan Pentingnya Ibadah dan Zakat
Kultum Malam ke-25 Ramadhan di Masjid Al Munawwarah, Ustadz Abdullah Said : Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa
Meriahkan Ramadhan, Nasyiyatul Aisyiyah Papua Barat gelar Ramadhan Fest Ceria

Berita Terkait

Rabu, 18 Maret 2026 - 21:22 WIT

Kultum Tarawih Malam ke-29 di Masjid Al Munawwarah Fakfak: Jamaah Diajak Bijak Menyikapi Perbedaan Penetapan Idul Fitri

Rabu, 18 Maret 2026 - 20:36 WIT

PKS Fasilitasi Ratusan Warga Mudik Gratis, 16 Bus Diberangkatkan ke Enam Kota Tujuan

Rabu, 18 Maret 2026 - 20:26 WIT

PW Matahari Pagi Indonesia DKI Jakarta Salurkan Bingkisan Lebaran, Perkuat Solidaritas Sosial di Bulan Ramadan

Senin, 16 Maret 2026 - 19:21 WIT

Kultum Ramadhan Malam ke-27, Ustadz Hj. Jumroni Ingatkan Pentingnya Menunaikan Zakat Fitrah

Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:21 WIT

Kolaborasi Lembaga Islam di Fakfak Gelar Tatsqif Ramadhan, Angkat Tema Al-Qur’an Petunjuk bagi Manusia

Berita Terbaru