tagarutama.com, Fakfak – Malam ke-14 Ramadhan, Kamis 13 Maret 2025, Masjid Al-Munawwarah Fakfak dipenuhi jamaah yang hadir untuk mendengarkan tausiyah dari Haedar, S.Ag. Dalam ceramahnya, Haedar menyampaikan kisah inspiratif tentang Imam Ahmad bin Hanbal dan penjual roti, yang menunjukkan keajaiban istighfar dalam kehidupan seorang Muslim.
Haedar mengawali tausiyahnya dengan memperkenalkan sosok Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar dalam mazhab Hanbali dan murid dari Imam Syafi’i. “Imam Ahmad dikenal sebagai ahli hadist yang hafal sejuta hadist dan menjalani kehidupan dengan penuh ketakwaan serta kezuhudan,” ujar Haedar di hadapan jamaah.
Dalam kisahnya, Imam Ahmad mengisahkan bahwa di usia senja, tanpa alasan yang jelas, ia merasa terdorong untuk pergi ke sebuah kota di Irak, yakni Bashrah. “Padahal saya tidak memiliki janji dengan siapa pun dan tidak ada keperluan mendesak,” demikian tutur Imam Ahmad kala itu.
Setibanya di Bashrah saat waktu Isya’, Imam Ahmad melaksanakan shalat berjamaah di masjid setempat. Hatinya merasa tentram, sehingga ia memutuskan untuk beristirahat di dalam masjid. Namun, seorang marbot datang dan melarangnya tidur di dalam masjid.
“Syaikh, Anda tidak boleh tidur di sini,” kata marbot tersebut. Perlu diketahui, di zaman itu, banyak orang yang mengenal nama Imam Ahmad, tetapi tidak mengetahui wajahnya karena belum ada foto atau lukisan yang tersebar luas.
Ketika Imam Ahmad menjelaskan bahwa ia adalah seorang musafir dan ingin beristirahat, marbot tetap bersikeras melarangnya. Bahkan, Imam Ahmad sampai didorong keluar dari masjid. Tak ingin membuat keributan, Imam Ahmad berusaha tidur di teras masjid. Namun, marbot kembali mengusirnya dengan nada yang lebih keras.
“Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh!” bentak marbot sambil mendorong Imam Ahmad hingga ke jalanan.
Di dekat masjid, seorang penjual roti yang melihat kejadian itu segera memanggil Imam Ahmad.
“Syaikh, jika Anda tidak punya tempat menginap, silakan tinggal di tempat saya. Memang kecil, tapi insyaAllah cukup untuk beristirahat,” ujar si penjual roti dengan ramah.
Imam Ahmad menerima tawaran tersebut dan masuk ke rumah kecil yang juga menjadi tempat usaha si penjual roti. Selama berada di sana, Imam Ahmad memperhatikan kebiasaan unik tuan rumahnya. Sambil membuat adonan roti, lelaki itu terus melafalkan “Astaghfirullah” di setiap gerakannya saat mencampur tepung, menambahkan garam, bahkan ketika memasukkan adonan ke dalam oven.
Merasa penasaran, Imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama Anda melakukan ini?”
Si penjual roti tersenyum dan menjawab, “Sudah 30 tahun, Syaikh. Setiap hari saya selalu beristighfar sambil bekerja.”
Imam Ahmad semakin tertarik dan bertanya lagi, “Apa hasil dari kebiasaan ini?”
Dengan wajah penuh keyakinan, si penjual roti menjawab, “Demi Allah, tidak ada satu pun hajat yang saya panjatkan kecuali Allah selalu mengabulkannya.”
Baca Juga : Tausiyah Ramadhan di Masjid Al Munawwarah Fakfak: Meraih Kebahagiaan dalam Ibadah Puasa
Mendengar hal itu, Imam Ahmad teringat sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Namun, si penjual roti menambahkan, “Semua doa saya dikabulkan, kecuali satu.”
“Apa doa yang belum dikabulkan itu?” tanya Imam Ahmad penasaran.
“Saya selalu berdoa agar suatu hari bisa bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal,” jawabnya.
Mendengar itu, Imam Ahmad terkejut dan spontan bertakbir, “Allahu Akbar! Allah telah mengabulkan doamu dengan cara yang luar biasa. Demi istighfarmu, Allah menggerakkan saya dari Baghdad ke Bashrah, bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid hingga ke jalanan, hanya untuk memenuhi doamu!”
Si penjual roti terperanjat. Matanya berkaca-kaca, menyadari bahwa tamu yang selama ini ia jamu ternyata adalah Imam Ahmad sendiri—ulama besar yang selama ini ia rindukan untuk ditemui.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa istighfar bukan hanya sekadar bacaan, melainkan kunci pembuka segala hajat dan solusi dari setiap kesulitan.
“Semoga Allah memudahkan lisan kita untuk selalu beristighfar dan menjadikan kita hamba yang senantiasa dekat dengan-Nya,” pungkas Haedar dalam tausiyahnya.
Jamaah yang hadir pun terdiam, merenungi kisah penuh hikmah tersebut. Banyak dari mereka yang kemudian melafalkan istighfar dengan penuh harapan, agar Allah juga mengabulkan segala doa dan memberikan kemudahan dalam kehidupan mereka. (TU.01)