tagarutama.com, Fakfak – Pandoki dan tembakau negeri kini kian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Fakfak sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat sekaligus potensi komoditas ekonomi berbasis kearifan lokal.
Pandoki merupakan alat isap rokok tradisional yang dibuat dari pucuk daun nipah. Bagi masyarakat pesisir Fakfak, pandoki tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga mencerminkan cara hidup yang sederhana, ramah lingkungan, serta selaras dengan alam.
Sementara itu, tembakau negeri hadir sebagai pelengkap utama dalam tradisi tersebut. Keberadaannya melekat dalam aktivitas keseharian, ruang kebersamaan, hingga interaksi sosial masyarakat di berbagai kampung.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, menegaskan bahwa pandoki dan tembakau negeri memiliki makna jauh melampaui nilai ekonominya.
“Pandoki dan tembakau negeri bukan sekadar alat isap atau produk pertanian. Keduanya adalah simbol budaya yang merepresentasikan identitas, sejarah, dan nilai-nilai hidup masyarakat Fakfak,” ujar Widhi.
Menurutnya, keberadaan warisan lokal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius melalui pendataan, pelestarian, dokumentasi, serta penguatan nilai budaya, agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Ke depan, pandoki dan tembakau negeri akan kami integrasikan dalam program pelestarian budaya daerah dan edukasi bagi generasi muda, sekaligus menjadi bagian dari narasi kebudayaan Fakfak yang bernilai dan bermartabat,” jelasnya.
Widhi menjelaskan, potensi bahan baku pandoki, yakni tanaman nipah, hanya tumbuh di wilayah-wilayah tertentu. Demikian pula dengan keterampilan membuat pandoki secara tradisional yang umumnya dikuasai oleh mama-mama Fakfak.
Sentra pembuat pandoki hingga saat ini masih ditemukan di beberapa kampung, seperti Kampung Mandoni, Patimburak, Batufiafas, Air Besar, Kanantare, Kampung Sakartemen, serta sejumlah kampung lain yang belum terdata secara menyeluruh.
Tanaman nipah tumbuh alami dengan pola berumpun dan memiliki luasan sebaran yang relatif terbatas, umumnya tidak lebih dari ±10 hektare dalam satu kawasan. Habitat utamanya berada di wilayah pesisir, kawasan berlumpur, serta muara sungai yang dipengaruhi pasang surut.
Karakter tumbuh berumpun membuat nipah tergolong adaptif dan berkelanjutan. Pengambilan pucuk atau daun untuk keperluan tradisional, termasuk pembuatan pandoki, tidak merusak tanaman secara keseluruhan karena rumpun nipah akan terus menghasilkan tunas baru.
Dalam pandangan budaya masyarakat Fakfak, nipah juga dimaknai sebagai simbol kebersamaan, ketahanan, dan keberlanjutan hidup, sejalan dengan nilai sosial masyarakat yang hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan dengan alam.
Proses pembuatan pandoki sendiri memerlukan keterampilan dan ketelatenan.
Pucuk daun nipah muda dibersihkan, kemudian dilayukan agar lentur, digulung rapat membentuk pipa kecil, lalu dijemur hingga kering. Saat digunakan, tembakau negeri khas Fakfak diisikan pada salah satu ujung pandoki dan dihisap sebagai bagian dari tradisi lokal.
Pandoki, dengan demikian, menjadi wujud nyata kearifan masyarakat Fakfak dalam memanfaatkan sumber daya alam sekaligus menjaga warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan tengah melakukan inventarisasi pelaku usaha lokal, khususnya mama-mama Fakfak yang memproduksi pandoki secara tradisional.
“Berdasarkan pendataan awal, terdapat sekitar 60 mama-mama Fakfak yang masih aktif memproduksi pandoki, tersebar di sejumlah kampung potensial,” ungkap Widhi.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pandoki dan tembakau negeri ke depan akan menjadi fokus perhatian pemerintah daerah, tidak hanya untuk dilestarikan, tetapi juga dikembangkan sebagai komoditas perkebunan berbasis kearifan lokal.
“Kami akan mendorong pandoki dan tembakau negeri sebagai produk khas yang secara khusus dikelola dan dipasarkan oleh mama-mama asli Fakfak,” katanya.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta mendorong lahirnya produk unggulan daerah yang berkelanjutan.
Melalui pendekatan perkebunan rakyat dan penguatan identitas budaya, pandoki dan tembakau negeri diharapkan tumbuh sebagai simbol kebanggaan masyarakat Fakfak, sekaligus sumber manfaat ekonomi jangka panjang bagi keluarga dan komunitas lokal di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. (TU.01)










