tagarutama.com, Jakarta – Langkahnya dulu dimulai dari sekadar menjaga kebugaran. Kini, ia tak lagi berlari untuk dirinya sendiri. Ia hadir sebagai pacer; penjaga ritme, pengatur tempo, sekaligus penyemangat bagi para pelari yang ingin menaklukkan batas dalam diri mereka.
Begitulah sosok perempuan berdarah Sulawesi Selatan, Siti Shafia Rizmarini Ilham, yang terpilih menjadi Pacer Pocari Sweat 2026. Ia juga merupakan seorang HCGA Manager yang juga berkecimpung dalam dunia psikologi olahraga.
“Muncul keinginan dalam diri aku, suatu hari aku juga ingin jadi orang yang membantu pelari lain mencapai garis finish,” ungkap Arini, sapaan akrabnya, Rabu (18/02/2026), melalui sambungan telepon dengan media ini.
Terpilih menjadi pacer adalah sebuah kebanggaan. Namun, di balik itu tersimpan tanggung jawab moral yang besar.
Perjalanan Arini dimulai dari disiplin kecil: bangun lebih pagi, menaklukkan rasa malas, dan berlatih lebih keras. Cuaca yang tak menentu saat latihan pun tidak menurunkan niatnya untuk tetap konsisten.

“Latihan interval yang menguras tenaga, latihan penguatan otot, penguatan mental untuk tetap stabil, hingga komitmen menjaga pola makan dan istirahat, aku jalani,” ujarnya.
Seiring waktu dan persiapan yang matang, langkah kakinya yang dulu hanya sebagai peserta race kini berubah menjadi pengatur ritme bagi pelari lain.
Baginya, menjadi pacer berarti harus mampu membaca kondisi pelari di sekitarnya. Mengetahui siapa yang mulai tertinggal, siapa yang membutuhkan dorongan kata-kata, serta siapa yang hampir menyerah.
“Di tengah race, terutama di kilometer-kilometer akhir, perubahan terlihat jelas di wajah pelari. Napas mulai berat, langkah melambat, dan mental pun goyah. Di situlah peran pacer bukan hanya menjaga pace, tetapi juga menjaga keyakinan agar bisa finis dengan kuat, tentunya dengan hidrasi yang tepat,” jelasnya.
Tantangan terbesarnya bukan sekadar fisik. Cuaca yang tak menentu, tekanan untuk konsisten menjaga pace, hingga ekspektasi peserta yang menggantungkan harapan padanya menjadi beban yang harus ia kelola dengan kepala dingin.
Sebagai pacer, ia harus stabil dari start hingga finish, bukan sekadar kuat di awal.
“Aku membiasakan long run sesuai target pace yang akan aku bawa, ditambah latihan interval dan strength training supaya badan tetap efisien dan minim cedera. Selain itu, aku juga menjaga hidrasi, nutrisi, dan kualitas tidur menjelang race,” jelasnya.
“Secara mental, aku menanamkan mindset bahwa race day bukan tentang performaku pribadi, tetapi tentang tanggung jawab kepada pelari yang ikut di grupku. Jadi, aku harus datang dengan energi positif, sabar, dan siap menghadapi berbagai kondisi di lapangan,” lanjutnya.
Menjaga pelari hingga garis finish membuat segala lelah fisik dan mental terbayar lunas. Ada rasa puas, bahagia, dan syukur yang ia rasakan.
“Melihat senyum bahagia pelari yang aku tuntun dari awal start hingga finish tentu membuatku puas dan bersyukur,” imbuhnya.
Menjadi pacer membuat Arini belajar tentang empati dan kepedulian. Di sepanjang race, ia bertemu pelari dari berbagai latar belakang, kemampuan, serta cerita perjuangan. Dari situ, ia memahami bahwa setiap orang memiliki “race”-nya masing-masing. Karena itu, penting untuk hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Kesabaran dan pengendalian diri menjadi hal lain yang ia pelajari. Ia mengelola emosi pribadi agar tetap menjadi sumber energi positif bagi orang lain.
“Menjadi pacer menuntut aku untuk tetap tenang dalam berbagai situasi—baik ketika peserta mulai kelelahan, panik, maupun kehilangan ritme,” ungkapnya.
Kecintaan Arini terhadap olahraga lari mendorongnya terus berkembang. Ia berharap olahraga lari tidak hanya menjadi tren, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang dijalani secara konsisten sehingga mendatangkan kebaikan bagi setiap orang. (*)
(TU/JM)









