tagarutama.com, Fakfak — Tradisi, budaya, dan keharmonisan dengan alam menjadi inti dalam panen Pala Tomandin yang digelar Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak bersama kelompok binaan keluarga Hombore di Kampung Wartutin, Jumat (16/5/2025). Kegiatan ini diawali dengan minum kopi bersama, makan pinang, sirih, dan pandoko, lalu dilanjutkan dengan prosesi adat Meri Totora sebelum menuju kebun pala untuk panen.
“Kami ingin panen ini bukan hanya soal memetik hasil, tapi juga wujud penghargaan kepada alam dan warisan leluhur kami,” ujar Abner Hombore, pemilik kebun pala seluas 1 hektare yang menjadi lokasi panen.
Menurut Abner, kerja sama dengan Dinas Perkebunan Fakfak sudah terjalin selama beberapa tahun melalui program ekstensifikasi pala. Dukungan tersebut mencakup pembukaan lahan, pembinaan jarak tanam, hingga perawatan pohon.
“Kami diajarkan untuk sabar, menunggu buah pala benar-benar matang sebelum dipetik. Hasil hari ini adalah buah dari kesabaran dan kerja keras bersama,” katanya.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, yang menyatakan rasa bangganya terhadap kelompok binaan yang tetap menjaga nilai-nilai adat dalam proses budidaya.
“Panen ini adalah bukti bahwa ketika tradisi dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan, hasilnya bisa luar biasa. Apa yang dilakukan keluarga Hombore mencerminkan nilai luhur masyarakat Fakfak, yakni menghormati pohon pala bukan sekadar sebagai komoditas, tapi sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri,” tutur Widhi.
Baca Juga : Bupati Fakfak: “Pendidikan dan Kesehatan adalah Janji yang Harus Saya Tunaikan”
Prosesi Meri Totora, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan ini, digambarkan sebagai ritual penghormatan kepada Pala Tomandin, pohon pala khas Fakfak yang dianggap sebagai simbol kesuburan, keberlanjutan, dan peradaban.
“Dalam budaya kami, pohon pala adalah ibu. Ia memberi kehidupan, rezeki, dan keteduhan. Maka kami perlakukan dengan hormat, bahkan sebelum memetiknya,” ungkap salah satu tokoh adat yang turut hadir dalam acara tersebut.
Widhi menambahkan bahwa pelestarian ritual semacam ini tak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga berperan penting dalam menjaga mutu dan keberlanjutan komoditas unggulan Fakfak.
“Kita ingin pala Fakfak bukan hanya dikenal karena kualitasnya, tapi juga karena keunikan filosofi budayanya. Itu nilai tambah yang sangat berharga, terutama untuk pasar ekspor yang kini makin menghargai proses yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal,” tambahnya.
Panen pala ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah, petani, dan budaya. Sebuah model kolaborasi yang patut dijadikan contoh dalam pengelolaan komoditas lokal di Papua Barat dan Indonesia secara umum. (TU.01)