tagarutama.com, Jakarta – Dinas Kesehatan Provinsi Aceh melalui Tim Pengendali Vektor bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan Puskesmas Lapang melakukan pengendalian vektor nyamuk di sejumlah pos pengungsian banjir di Desa Kuala Cangkoi, Kabupaten Aceh Utara, Senin (20/1/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah tanggap darurat pascabanjir sekaligus upaya pencegahan penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
Pengendalian nyamuk difokuskan pada pemeriksaan jentik di berbagai tempat penampungan air di area pengungsian. Petugas juga menaburkan bubuk abate pada wadah air tertentu serta memberikan edukasi kepada warga terkait pencegahan sarang nyamuk melalui penerapan 3M Plus.
Kepala Puskesmas Lapang, Mastuti, mengatakan banjir berdampak pada seluruh desa di wilayah kerjanya. Dari total 11 desa, tiga di antaranya mengalami kerusakan paling parah, yakni Desa Kuala Cangkoi, Matang Baro, dan Kuala Keretou.
“Sebanyak 11 desa terdampak banjir, dan tiga desa mengalami kondisi terparah hingga menyebabkan rumah warga hanyut,” ujar Mastuti.
Tim menyisir pos-pos pengungsian di kawasan pesisir dengan memeriksa tempat penampungan air yang terbuka, genangan air di sekitar tenda pengungsian, serta fasilitas MCK darurat. Edukasi pencegahan DBD disampaikan menggunakan bahasa daerah agar mudah dipahami oleh masyarakat pengungsi.
Ketua Tim Pengendali Vektor Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Muhammad Jamil, menjelaskan bahwa penggunaan bubuk abate hanya diberikan pada penampungan air yang tidak digunakan sebagai sumber air minum.
“Untuk tempat penampungan air minum yang ditemukan jentik, air dipindahkan terlebih dahulu, lalu wadah dibersihkan dan disikat agar telur nyamuk tidak tersisa,” jelasnya.
Salah satu warga pengungsian, Efendi (50), mengapresiasi kegiatan pemeriksaan jentik tersebut. Ia menyebut hingga saat ini belum ditemukan kasus DBD maupun malaria di lokasi pengungsian.
Muhammad Jamil menambahkan, pascabanjir belum terjadi peningkatan kasus DBD dan malaria di Kabupaten Aceh Utara. Daerah ini juga telah menyandang status eliminasi malaria sejak tahun 2020.
Ia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan langkah 3M Plus, yakni menutup, menguras, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta melakukan upaya tambahan lain guna mencegah berkembangbiaknya nyamuk di lingkungan sekitar (*)










