tagarutama.com, Fakfak – Penguatan Blok Penghasil Tinggi (BPT) Pala Tomandin terus digencarkan sebagai langkah strategis untuk menjaga mutu, kesinambungan produksi, serta memperkuat fondasi hilirisasi komoditas unggulan di Kabupaten Fakfak.
Upaya ini dilaksanakan melalui sinergi antara Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat. Tim gabungan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap delapan kebun benih BPT dan tiga unit penangkar pala Tomandin sebagai bagian dari penyusunan rencana aksi hilirisasi pala di Fakfak.
Kepala Bidang Perkebunan Provinsi Papua Barat, Heri Benidiktur, menjelaskan bahwa penilaian BPT dilakukan secara ketat dan terukur.
“Evaluasi difokuskan pada kemurnian varietas, produktivitas pohon induk, kesehatan tanaman, serta kesesuaian standar teknis pengelolaan kebun benih. Pada unit penangkaran, pengawasan diarahkan mulai dari seleksi buah dan biji, proses perkecambahan, hingga kesiapan bibit sehat yang layak disalurkan kepada petani,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh benih yang dihasilkan harus benar-benar bersumber dari pohon induk unggul berdaya hasil tinggi dan memiliki karakter mutu yang mendukung kebutuhan pasar nasional hingga ekspor.
Penguatan BPT, lanjutnya, tidak semata ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. Lebih dari itu, langkah ini menjadi kunci menjamin ketersediaan bahan baku yang stabil bagi pengembangan produk hilir, seperti fuli, minyak atsiri, serta berbagai turunan pala bernilai tambah.
Dengan tersedianya benih unggul bersertifikat, produktivitas kebun rakyat diharapkan meningkat secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Fakfak sebagai sentra pala premium.
Perwakilan tim evaluasi dari BBPPT Ambon, Jondri, menekankan bahwa kondisi kebun BPT sangat ditentukan oleh tata kelola tajuk dan sirkulasi udara.
“Banyak kebun pala mengalami penurunan produksi bukan semata karena faktor umur tanaman, tetapi karena tajuk terlalu rapat. Kondisi ini menghambat cahaya matahari dan peredaran udara, sehingga kelembapan meningkat dan memicu serangan jamur, busuk buah, maupun penyakit batang,” jelasnya.
Ia menyebutkan, penerapan penjarangan cabang, pengaturan jarak tanam, sanitasi kebun, serta pemangkasan rutin wajib dilakukan secara konsisten.
“Dengan ruang tumbuh yang ideal, penyerapan unsur hara lebih optimal, fotosintesis berjalan efektif, pembungaan lebih seragam, dan kualitas buah tetap terjaga. Kebun benih harus dikelola sesuai standar perbenihan, karena berfungsi sebagai sumber genetik unggul, bukan kebun budidaya biasa,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menegaskan bahwa kesiapan pelaksanaan program 1.000 hektare Kawasan Pala (Kapala Emas) telah memasuki tahap matang.
“Program Kapala Emas tidak hanya berorientasi pada perluasan areal tanam, tetapi juga penguatan fondasi produksi melalui penyediaan sumber benih unggul dan peningkatan kualitas kebun rakyat,” ungkapnya.
Saat ini, Fakfak memiliki delapan BPT–PIT (Blok Penghasil Tinggi – Pohon Induk Terpilih) yang dipelihara secara intensif sebagai pusat sumber benih pala Tomandin. Pohon induk dikelola melalui pemeliharaan rutin, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pemupukan terjadwal setiap tiga bulan bersama tim teknis dan petani.
Menurut Widhi, penguatan BPT merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan perkebunan daerah.
“Pengembangan kawasan tidak sekadar mengejar luasan, tetapi memastikan kualitas, kesinambungan produksi, dan kesiapan bahan baku untuk industri pengolahan. Dengan sinergi lintas lembaga dan keterlibatan aktif petani, rantai pasok pala Fakfak dari hulu hingga hilir akan semakin kokoh dan memberi dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya. (TU.01)









