tagarutama.com, Fakfak – Target pendataan dan peminatan tanam pala seluas 1.000 hektare dalam Program Kawasan Pala Ekonomi Masyarakat Sejahtera (Kapala Emas Fakfak) resmi ditutup pada 27 Februari 2026. Capaian ini menandai kuatnya dukungan masyarakat terhadap pengembangan pala sebagai komoditas unggulan daerah di Kabupaten Fakfak.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Yayasan Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Mbaham Matta Fakfak (YP2M3F), pemerintah distrik dan kampung, serta partisipasi aktif masyarakat.
Program Kapala Emas bersifat peminatan, di mana petani secara sukarela mendaftarkan diri untuk bergabung dalam pengembangan kawasan pala. Antusiasme tinggi ini mencerminkan komitmen kuat masyarakat untuk menjadikan pala sebagai pilar ekonomi daerah.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menyampaikan bahwa capaian pendataan ini menjadi fondasi penting untuk mendorong penguatan sektor perkebunan berbasis kawasan.
“Keberhasilan pendataan 1.000 hektare ini merupakan langkah awal yang strategis untuk mendukung agenda hilirisasi kawasan perkebunan pala, yang menjadi program prioritas nasional dan daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hilirisasi tidak hanya diarahkan pada peningkatan luas tanam dan produksi, tetapi juga menyasar penguatan pascapanen, pengolahan, pengembangan produk turunan bernilai tambah, hingga perluasan akses pasar.
“Melalui pendekatan ini, ekosistem perkebunan pala dibangun secara menyeluruh agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tambahnya.
Dengan penguatan tersebut, komoditas pala diharapkan mampu meningkatkan daya saing daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Tahap selanjutnya, Dinas Perkebunan akan memasuki proses verifikasi dan validasi data. Tahapan ini meliputi pemeriksaan identitas calon penerima manfaat, pengecekan serta penetapan titik lokasi lahan, dan penilaian kesesuaian administrasi maupun teknis sesuai ketentuan program.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketepatan sasaran, transparansi, dan akuntabilitas, sekaligus menjamin kesiapan kawasan dalam mendukung hilirisasi perkebunan pala secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat yang belum masuk dalam kuota tahun ini, pemerintah daerah mengimbau agar tetap mempersiapkan diri, baik dari sisi kelengkapan administrasi maupun kesiapan lahan, untuk diusulkan pada tahap berikutnya di tahun mendatang.
Widhi menegaskan bahwa Program Kapala Emas tidak hanya berorientasi pada perluasan tanam, melainkan menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka panjang daerah.
“Program Kapala Emas adalah bentuk investasi masa depan masyarakat Fakfak. Pala merupakan komoditas unggulan yang memiliki nilai historis dan ekonomi tinggi. Ketika kita menanam hari ini, sesungguhnya kita sedang menyiapkan sumber pendapatan berkelanjutan bagi keluarga petani di masa yang akan datang,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa melalui pendekatan kawasan dan dukungan hilirisasi, pemerintah tidak sekadar mendorong peningkatan produksi, tetapi memastikan hadirnya nilai tambah melalui pengolahan dan penguatan rantai pemasaran.
“Hasil petani tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah. Kita dorong agar berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih stabil dan berdaya saing,” jelasnya.
Lebih lanjut disampaikan, keberhasilan pendataan seluas 1.000 hektare menjadi indikator optimisme masyarakat terhadap masa depan komoditas pala. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga konsistensi pengembangan pala sebagai fondasi ekonomi jangka panjang, sekaligus memperkuat posisi Fakfak sebagai salah satu daerah penghasil pala yang berkualitas dan berkelanjutan. (TU.01)









