tagarutama.com, Jakarta – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menggelar pertemuan bilateral dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (24/02/2026).
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama kebudayaan Indonesia–Jerman, termasuk pembaruan nota kesepahaman (MoU), pengembangan pusat kebudayaan, hingga rencana repatriasi fosil manusia purba asal Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Fadli Zon menegaskan bahwa hubungan kedua negara telah memiliki fondasi kuat melalui Agreement on Cultural Cooperation yang diteken pada 1988. Namun, menurutnya, kerangka kerja sama tersebut perlu diperbarui agar selaras dengan dinamika global dan prioritas terkini kedua negara.
“Kami ingin memperkuat kerja sama dengan Republik Federal Jerman. Indonesia dan Jerman memiliki kerangka perjanjian kerja sama kebudayaan sejak 1988. Mungkin ini saatnya untuk kita perbarui,” ujar Fadli Zon. Dikutip dari siaran pers Kementerian Kebudayaan (27/02/202)
Selain pembaruan MoU, Menbud juga mendorong penguatan platform promosi budaya Indonesia di Jerman, termasuk optimalisasi Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang berada di KBRI Berlin.
“Kami ingin memperkuat hubungan antar masyarakat dengan kehadiran Rumah Budaya Indonesia di Jerman. Sekarang kita punya Rumah Budaya Indonesia di KBRI Berlin,” katanya.
Isu lain yang mengemuka adalah rencana dialog terkait repatriasi 13 fosil Manusia Purba Sangiran yang saat ini berada di Museum Senckenberg, Jerman. Pemerintah Indonesia mendorong percepatan diskusi teknis mengenai kemungkinan pengembalian fosil tersebut.
Selain itu, kedua pihak juga membahas peluang kerja sama produksi film bersama (co-production) yang mengangkat kisah Georg Eberhard Rumphius, naturalis Jerman yang pernah tinggal dan meneliti di Ambon pada abad ke-17.
Dubes Ralf Beste menyambut positif rencana pembaruan kerja sama tersebut. Ia menilai sektor kebudayaan seperti sejarah, film, literasi, serta diskusi repatriasi perlu dibangun dengan pendekatan yang adaptif.
“Bidang kebudayaan seperti sejarah, film, buku, serta diskusi repatriasi perlu kita bangun kerangkanya melalui pendekatan yang berbeda dan dapat disesuaikan. Kerja sama di bidang permuseuman juga tidak kalah pentingnya,” ujar Beste.
Dalam pertemuan itu, Fadli Zon turut didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Endah T.D. Retnodwiastuti serta Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya.
Menutup pertemuan, Menbud menyatakan kesiapan Indonesia menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman, Frank-Walter Steinmeier, ke Indonesia pada 9 Maret 2026 mendatang. Lawatan tersebut juga dijadwalkan diikuti pertemuan dengan Direktur Frankfurt Book Fair.
Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong diplomasi budaya sebagai jembatan hubungan bilateral, sekaligus memperluas eksistensi budaya Indonesia di kancah internasional. (*)
(TU/JM)









