Pala dan Pohon Pogah: Warisan Alam Fakfak yang Mendunia, Siap Menembus Pasar Global

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 Juli 2026 - 07:44 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemilik Mom's Bakery Indonesia dan Greens and Beans (GnB), Fransisca Indriyana, bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan, Jinho Jeffry Shin bersama kepala Dinas Perkebunan Widhi Asmoro Jati menemui langsung petani pala.

Pemilik Mom's Bakery Indonesia dan Greens and Beans (GnB), Fransisca Indriyana, bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan, Jinho Jeffry Shin bersama kepala Dinas Perkebunan Widhi Asmoro Jati menemui langsung petani pala.

tagarutama.com, Fakfak – Kekayaan alam Kabupaten Fakfak kembali mencuri perhatian pelaku usaha nasional maupun internasional. Dua komoditas khas daerah, Pala Tomandin Fakfak dan pohon pogah, menjadi magnet yang menarik kunjungan Pemilik Mom’s Bakery Indonesia dan Greens and Beans (GnB), Fransisca Indriyana, bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan, Jinho Jeffry Shin, untuk melihat langsung potensi luar biasa yang dimiliki “Kota Pala” tersebut.

Jika Pala Tomandin Fakfak telah lama dikenal sebagai salah satu pala berkualitas terbaik di Indonesia yang memiliki cita rasa dan aroma khas serta telah menembus pasar internasional, maka pohon pogah menghadirkan pesona berbeda. Tumbuhan endemik ini merupakan kekayaan hayati yang memiliki nilai budaya, ekonomi, sekaligus lingkungan yang sangat tinggi.

Sejak dahulu, masyarakat adat Fakfak, khususnya mama-mama Papua, memanfaatkan serat pohon pogah sebagai bahan baku pembuatan tas anyaman tradisional. Kerajinan tersebut bukan hanya menjadi identitas budaya masyarakat Fakfak, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketertarikan terhadap kedua kekayaan alam tersebut mendorong Fransisca Indriyana dan Jinho Jeffry Shin datang langsung ke Fakfak. Mereka ingin menyaksikan proses budidaya serta hilirisasi Pala Tomandin Fakfak, sekaligus melihat bagaimana serat pohon pogah diolah menjadi produk kerajinan yang memiliki ciri khas alami, ramah lingkungan, dan bernilai seni tinggi.

Dalam kunjungan ke Kampung Mananmur, rombongan bertemu dengan Milton Iba, salah seorang pengrajin pohon pogah, serta Mama Bernadeta bersama kelompok mama-mama pengrajin yang hingga kini tetap mempertahankan tradisi mengolah serat pohon secara tradisional.

Milton menjelaskan bahwa proses pengambilan serat dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan teknik yang diwariskan oleh leluhur. Kulit pohon diambil secukupnya, kemudian serat dipisahkan, dibersihkan, dan dijemur hingga kering sebelum diolah menjadi berbagai produk kerajinan.

Seluruh tahapan dikerjakan tanpa menggunakan mesin maupun bahan kimia sehingga menghasilkan produk yang sepenuhnya alami dan ramah lingkungan.

Baca Juga :  Momen TEI 2025, Koperasi Myristica Fakfak Teken MoU dengan PT. Martina Berto & PT. Inovasia: Produk Lemak dan Manisan Pala Siap Go Nasional

Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal mengenai waktu terbaik untuk mengambil serat, yakni pada saat bulan purnama. Menurutnya, cara tersebut dipercaya menghasilkan serat yang lebih kuat dan berkualitas.

“Kami hanya mengambil serat sesuai kebutuhan dan dengan cara yang benar. Pohonnya tetap hidup dan dapat tumbuh kembali. Itulah warisan leluhur yang selalu kami jaga agar alam tetap lestari sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Milton.

Kearifan lokal tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Fakfak telah lama menerapkan prinsip pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, menjaga keseimbangan antara pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Fransisca Indriyana mengaku sangat terkesan dapat melihat langsung asal-usul bahan baku tas anyaman yang selama ini telah dikenalnya. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa tas berbahan serat pohon pogah pernah dibawanya dalam berbagai pameran internasional sebagai contoh produk kerajinan alami Indonesia.

“Kami datang jauh-jauh ke Fakfak karena ingin melihat langsung proses pembuatannya. Produk seperti ini memiliki cerita, budaya, dan nilai keberlanjutan yang sangat kuat. Pasar dunia saat ini semakin menghargai produk alami yang dibuat secara tradisional dan ramah lingkungan,” ungkap Fransisca.

Menurutnya, dengan peningkatan kualitas, inovasi desain, pengemasan yang lebih menarik, serta strategi promosi yang tepat, kerajinan berbahan serat pohon pogah memiliki peluang besar untuk menembus pasar nasional hingga internasional, sebagaimana keberhasilan Pala Tomandin Fakfak yang telah lebih dahulu dikenal dunia.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Milton Iba, Mama Bernadeta, dan seluruh mama-mama pengrajin yang terus menjaga keterampilan turun-temurun tersebut.

“Yang dijaga bukan hanya keterampilan membuat tas, tetapi juga budaya, hutan, dan masa depan generasi berikutnya. Inilah kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., yang turut mendampingi kunjungan ke Kampung Mananmur dan bertemu dengan kelompok binaan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), menegaskan bahwa kekayaan alam Fakfak memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Semarak Ramadhan, SIT As Salaam Fakfak Gelar Tadarrus Sekali Duduk 4 Juz

Menurutnya, selain Pala Tomandin Fakfak sebagai komoditas unggulan daerah, hasil hutan bukan kayu seperti pohon pogah juga memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya dan konservasi lingkungan.

“Fakfak memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Pala Tomandin telah membuktikan mampu dikenal dunia. Kini, pohon pogah dan berbagai hasil hutan bukan kayu lainnya juga memiliki peluang yang sama apabila dikembangkan melalui kolaborasi, inovasi, dan pembinaan yang berkelanjutan,” ujar Widhi.

Ia menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, kelompok perhutanan sosial, pelaku usaha, akademisi, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah produk lokal tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.

Widhi juga menekankan pentingnya menjaga keberadaan pohon pogah melalui penanaman kembali, pemanfaatan yang bijaksana, serta perlindungan habitatnya agar ketersediaan bahan baku tetap terjamin bagi generasi mendatang.

“Kami ingin memastikan bahwa peningkatan ekonomi masyarakat berjalan beriringan dengan pelestarian alam. Dengan begitu, manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Fakfak,” tegasnya.

Kunjungan Pemilik Mom’s Bakery Indonesia dan Greens and Beans bersama Direktur Global Business asal Korea Selatan tersebut diharapkan menjadi awal terbukanya kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan, promosi, dan pemasaran produk-produk unggulan Fakfak.

Melalui kerja sama berbagai pihak, Pala Tomandin Fakfak dan kerajinan berbahan serat pohon pogah diyakini akan semakin dikenal sebagai produk khas Indonesia yang memiliki kualitas tinggi, kaya akan nilai budaya, ramah lingkungan, serta mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Warisan alam yang telah dijaga oleh masyarakat Fakfak selama bergenerasi kini memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan yang mengharumkan nama daerah di panggung dunia. (TU.01)

Follow WhatsApp Channel tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tembakau Negeri Mahi Tuni, Warisan Leluhur yang Terus Dijaga Pemerintah Kabupaten Fakfak
Mom’s Bakery Indonesia dan Greens And Beans Tertarik Kembangkan Produk Pala Tomandin Fakfak, Dukung Perluasan Pasar Produk Lokal Berbahan Alami
Dinas Perkebunan Fakfak Gaungkan Gerakan “Fakfak Bersih Kotaku” untuk Mendukung Fakfak Membara
Tindak Lanjut Audiensi Bupati Fakfak dengan Menteri Pertanian RI, Program Peremajaan Kelapa Resmi Dimulai
Investasi Sawit PT STM Agro Energi Masuki Tahap Pemetaan Lahan dan Persiapan AMDAL
Khom Wria, Wujud Nyata Fakfak Membara dalam Memberdayakan Mama-Mama Asli Fakfak
Lestarikan Pinang Endemik Fakfak, Dinas Perkebunan Tanam 1.600 Bibit di Kampung Kiat
Kesbangpol Fakfak Sosialisasikan Tata Kelola dan Legalitas Ormas untuk Perkuat Peran Organisasi di Masyarakat

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 07:44 WIT

Pala dan Pohon Pogah: Warisan Alam Fakfak yang Mendunia, Siap Menembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:57 WIT

Tembakau Negeri Mahi Tuni, Warisan Leluhur yang Terus Dijaga Pemerintah Kabupaten Fakfak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:37 WIT

Mom’s Bakery Indonesia dan Greens And Beans Tertarik Kembangkan Produk Pala Tomandin Fakfak, Dukung Perluasan Pasar Produk Lokal Berbahan Alami

Rabu, 8 Juli 2026 - 05:18 WIT

Dinas Perkebunan Fakfak Gaungkan Gerakan “Fakfak Bersih Kotaku” untuk Mendukung Fakfak Membara

Selasa, 7 Juli 2026 - 03:17 WIT

Tindak Lanjut Audiensi Bupati Fakfak dengan Menteri Pertanian RI, Program Peremajaan Kelapa Resmi Dimulai

Berita Terbaru