tagarutama.com, Fakfak – Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan terus memperkuat komitmennya dalam menjaga keberlanjutan Tembakau Negeri (Mahi Tuni) sebagai salah satu warisan budaya yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat adat sejak turun-temurun. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pendampingan, pembinaan, serta program pengembangan bagi para petani tembakau di Kampung Mamur dan kampung-kampung sekitarnya sebagai sentra penghasil Tembakau Negeri di Kabupaten Fakfak.
Langkah ini tidak hanya bertujuan mempertahankan keberadaan komoditas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal, memperkuat identitas budaya masyarakat Fakfak, serta menjaga marwah warisan leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Bagi masyarakat adat Fakfak, Mahi Tuni memiliki makna yang jauh melampaui nilai ekonominya. Tembakau Negeri menjadi bagian penting dalam berbagai prosesi adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga tradisi keseharian masyarakat bersama sirih, pinang, kapur, dan pandoki sebagai alat hisap tradisional. Kehadirannya mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Melalui Dinas Perkebunan, Pemerintah Kabupaten Fakfak terus melakukan pembinaan kepada para pekebun dengan tetap menghormati sistem budidaya tradisional yang selama ini dijalankan masyarakat adat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pengembangan sektor perkebunan dengan pelestarian nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Fakfak.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., saat mengunjungi kelompok pekebun Tembakau Negeri di Kampung Mamur, menegaskan bahwa keberlanjutan Mahi Tuni merupakan bagian penting dari upaya menjaga jati diri masyarakat Fakfak.
“Budidaya Tembakau Negeri hingga hari ini masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan, hingga pascapanen tetap mengikuti pengetahuan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Inilah kekuatan sekaligus keunikan Tembakau Negeri Fakfak yang harus terus dipertahankan. Pemerintah hadir untuk memperkuat keberlanjutan sistem budidaya tersebut tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang menyertainya,” ujar Widhi.
Ia menjelaskan, pengembangan Mahi Tuni tidak semata-mata diarahkan pada peningkatan produksi maupun aspek komersial, melainkan menjadi bagian dari pelestarian budaya masyarakat adat.
“Di setiap proses budidaya terdapat nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Cara menanam, merawat, mengolah hasil panen hingga tradisi mengonsumsinya bersama pandoki merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Fakfak. Karena itu, Mahi Tuni bukan sekadar tanaman perkebunan, tetapi simbol marwah budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, setiap tahun Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan mengalokasikan program pengembangan Tembakau Negeri dalam bentuk bantuan stimulan kepada kelompok-kelompok tani. Meskipun kemampuan anggaran masih terbatas, pemerintah berupaya agar sasaran bantuan terus diperluas sehingga dapat menjangkau kelompok tani yang belum pernah menerima program sebelumnya.
“Kami berkomitmen agar manfaat program ini dapat dirasakan secara bertahap dan merata oleh seluruh petani Tembakau Negeri di Kabupaten Fakfak. Masih ada pekebun yang belum sempat kami jangkau, namun kami optimistis melalui pendataan dan pembinaan yang berkelanjutan, seluruh kelompok tani akan memperoleh pendampingan dari pemerintah,” kata Widhi.
Ia juga mengajak masyarakat adat, tokoh kampung, maupun kelompok tani yang belum terdata agar aktif menyampaikan informasi kepada Dinas Perkebunan sehingga program pengembangan dapat disusun sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah.
“Kami siap datang ke kampung-kampung, berdialog langsung dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi mereka, lalu bersama-sama menyusun langkah pengembangan yang selaras dengan potensi daerah dan kearifan lokal. Harapan kami sederhana namun bermakna besar, yaitu agar Mahi Tuni tetap tumbuh di setiap negeri di Kabupaten Fakfak sebagai sumber penghidupan masyarakat sekaligus simbol jati diri dan warisan leluhur,” tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Fakfak meyakini bahwa keberhasilan menjaga keberlanjutan Tembakau Negeri membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat adat, tokoh kampung, hingga para petani.
Sejalan dengan semangat Satu Tungku Tiga Batu serta visi pembangunan Fakfak Membara, keberadaan Mahi Tuni diharapkan terus lestari sebagai kekayaan budaya yang memperkuat identitas Kabupaten Fakfak, sekaligus menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. (TU.01)










