tagarutama.com, Fakfak – Kunjungan kerja Pangdam XVIII/Kasuari, Mayor Jenderal TNI Christian Kurnianto Tehuteru, di Kabupaten Fakfak ditandai dengan penanaman pohon pala kenangan di Kampung Torea. Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat pengembangan Pala Tomandin sebagai komoditas unggulan yang telah menjadi identitas masyarakat Fakfak selama ratusan tahun.
Penanaman pala dilakukan secara simbolis di areal kebun pala seluas satu hektare melalui kolaborasi antara Kodim 1803/Fakfak dan Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Selain sebagai bentuk penghijauan dan konservasi, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mendorong pengembangan sektor perkebunan pala yang lebih maju, berkelanjutan, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Pangdam XVIII/Kasuari menegaskan bahwa masa depan Pala Tomandin tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan inovasi dan pengolahan hasil yang mampu meningkatkan nilai ekonominya.
“Pala Tomandin memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Fakfak. Namun, potensi tersebut harus diperkuat melalui riset, inovasi, dan pengembangan industri hilir agar manfaat ekonominya semakin luas dirasakan masyarakat,” ujar Mayjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru.
Menurut Pangdam, pengembangan komoditas pala memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, serta berbagai pihak terkait. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi dan produk turunan yang bernilai tinggi serta berdaya saing di pasar nasional maupun internasional.
“Melalui riset dan inovasi, kita dapat membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian daerah. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk kemajuan Fakfak dan Papua Barat,” tambahnya.
Pangdam juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga sumber daya alam sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., memaparkan berbagai potensi yang dimiliki Pala Tomandin sebagai komoditas khas daerah yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Fakfak.
Ia menjelaskan bahwa julukan “Kota Pala” bukan sekadar identitas geografis, melainkan cerminan sejarah panjang, budaya, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama pala sejak berabad-abad lalu.
“Pala bukan hanya komoditas perkebunan. Pala adalah warisan rempah yang menyatukan budaya, menjaga hutan, serta menjadi sumber penghidupan masyarakat dari generasi ke generasi. Menjaga pala berarti menjaga identitas Fakfak itu sendiri,” ungkap Widhi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pala Tomandin memiliki makna yang jauh melampaui aspek ekonomi. Dalam kehidupan masyarakat adat Fakfak, pala merupakan simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Nilai tersebut tercermin dalam tradisi Meri Totora, yakni penghormatan kepada pala sebagai “Ibu Kehidupan”. Tradisi ini mengandung makna rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, serta tanggung jawab moral untuk menjaga alam demi keberlangsungan generasi yang akan datang.
Selain itu, masyarakat Fakfak juga mengenal tradisi Kera-kera atau Sasi Pala, yaitu aturan adat yang mengatur waktu panen guna menjaga kualitas hasil dan keberlanjutan sumber daya alam. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Fakfak telah menerapkan prinsip konservasi jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dikenal secara luas.
Menurut Widhi, Pala Tomandin tidak hanya berperan sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi, tetapi juga sebagai tanaman konservasi yang berkontribusi menjaga tutupan hutan dan keseimbangan ekosistem. Sistem budidayanya yang menyatu dengan kawasan hutan menjadikan pala sebagai komoditas yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus jasa lingkungan.
Saat ini, perkebunan pala rakyat di Kabupaten Fakfak tersebar di 15 distrik dan 117 kampung atau sekitar 78,52 persen wilayah kampung yang ada di Fakfak. Luas arealnya mencapai sekitar 18.962 hektare dengan produksi berkisar antara 1.800 hingga 2.000 ton per tahun.
Komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 3.840 petani yang tergabung dalam 158 kelompok tani, didukung oleh 65 pengumpul dan tujuh pedagang grosir antarpulau. Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi, Dinas Perkebunan terus mendorong penggunaan bibit unggul bersertifikat melalui kerja sama dengan berbagai lembaga teknis terkait.
Meski memiliki potensi yang besar, Widhi mengakui bahwa tantangan utama yang masih dihadapi adalah belum optimalnya pengolahan pala di dalam daerah. Sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah yang diperoleh masyarakat belum maksimal.
“Dari potensi yang ada, baru sekitar dua persen atau sekitar 47 ton daging buah pala yang dimanfaatkan. Selebihnya masih belum diolah secara optimal. Padahal, di situlah peluang besar untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak terus mendorong pengembangan industri hilir melalui diversifikasi berbagai produk berbasis pala. Produk tersebut meliputi sirup pala, manisan, selai, minuman kesehatan, produk herbal, kosmetik, kerajinan, hingga berbagai produk kreatif dan budaya yang memiliki nilai jual tinggi.
Pengembangan sektor hilir diyakini mampu memperluas peluang usaha, memperkuat pelaku UMKM lokal, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menutup pemaparannya, Widhi menegaskan bahwa masa depan Fakfak memiliki keterkaitan yang erat dengan keberlanjutan Pala Tomandin. Oleh sebab itu, diperlukan sinergi dan komitmen bersama dari seluruh pihak untuk menjaga, mengembangkan, serta memanfaatkan kekayaan rempah tersebut secara berkelanjutan.
“Pala Tomandin adalah warisan, identitas, dan sumber harapan masyarakat Fakfak. Jika dikelola dengan baik melalui kolaborasi, riset, dan hilirisasi, pala akan menjadi kekuatan besar dalam mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam Fakfak untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (TU.01)










