Audience Hangat Bupati Fakfak dan Menteri Pertanian RI: “Pala dan Kelapa, Masa Depan Ekonomi Fakfak”

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 06:40 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta.

tagarutama.com, Jakarta – Suasana hangat dan penuh optimisme mewarnai pertemuan antara Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, dan Menteri Pertanian Republik Indonesia dalam agenda Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Fakfak memaparkan berbagai potensi unggulan daerah yang diyakini mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya komoditas pala dan kelapa yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Fakfak.

Di hadapan Menteri Pertanian serta para kepala daerah se-Tanah Papua, Bupati menyampaikan bahwa Fakfak memiliki kesiapan lahan, sumber daya manusia, dan pengalaman panjang dalam budidaya pala yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Pak Menteri, tahun ini Fakfak mendapat program pengembangan pala seluas 1.000 hektare. Jika diperkenankan, kami berharap dapat memperoleh tambahan 1.000 hektare lagi karena masyarakat kami sangat siap,” ujar Samaun Dahlan.

Bupati menjelaskan, saat ini luas areal perkebunan pala di Kabupaten Fakfak mencapai sekitar 18.916 hektare dengan produksi rata-rata sekitar 2.000 ton per tahun. Komoditas tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekaligus identitas daerah yang telah dikenal hingga mancanegara.

Menanggapi pemaparan tersebut, Menteri Pertanian kemudian menanyakan jalur pemasaran hasil pala Fakfak.

“Sebagian besar dipasarkan ke Surabaya dan Jakarta, Pak Menteri,” jawab Bupati.

“Harganya bagus?” tanya Menteri.

“Puji Tuhan cukup baik, Pak Menteri. Kami juga terus berupaya menjaga stabilitas harga di tingkat petani,” lanjutnya.

Tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, Bupati Fakfak juga menegaskan pentingnya pembangunan industri pengolahan sebagai langkah lanjutan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.

Baca Juga :  Sejarah Islam di Papua: Penetapan Waktu, Tempat, dan Tokoh Pembawa Agama Islam ke Tanah Papua

“Kami memiliki cita-cita besar. Ke depan kami ingin hadirnya industri hilirisasi dan pabrik pengolahan pala di Fakfak sehingga manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat semakin besar,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons positif dari Menteri Pertanian. Menurutnya, hilirisasi merupakan arah kebijakan strategis pemerintah dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan.

“Setelah kita mendorong penanaman dan meningkatkan produksi, maka di ujungnya harus ada industri pengolahan. Itulah hilirisasi, dan itu menjadi salah satu mimpi besar Presiden untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian,” tegas Menteri yang disambut tepuk tangan para peserta.

Melihat kesiapan daerah dan tingginya antusiasme masyarakat, Menteri Pertanian akhirnya menyetujui tambahan program pengembangan pala bagi Kabupaten Fakfak.

“Kalau ditambah 500 hektare, siap?” tanya Menteri.

“Siap, Pak Menteri,” jawab Bupati dengan penuh semangat.

Persetujuan tersebut menjadi sinyal kuat dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan pala sebagai komoditas unggulan Kabupaten Fakfak dan Papua Barat.

Dalam dialog tersebut, Bupati juga menegaskan bahwa setiap daerah memiliki keunggulan masing-masing. Jika sebagian wilayah Papua saat ini fokus pada pengembangan pertanian pangan seperti sawah dan padi, maka Fakfak memilih memperkuat sektor perkebunan pala sebagai fondasi ekonomi daerah.

“Kalau daerah lain fokus di sawah, maka Fakfak fokus di pala. Inilah kekuatan dan keunggulan yang kami miliki,” tegasnya.

Bahkan, saat ditanya mengenai target pengembangan tahun depan, Bupati dengan optimistis menyebut kebutuhan perluasan kebun pala di Fakfak dapat mencapai 2.500 hektare.

Selain pala, Bupati Fakfak juga memperkenalkan potensi besar komoditas kelapa yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas nelayan ikan terbang di wilayah pesisir.

Baca Juga :  Pemkab Fakfak Perkuat Pengendalian Pala, Sepakati Standar Mutu dan Harga Layak untuk Petani

Menurutnya, setiap musim penangkapan telur ikan terbang, ratusan nelayan dari berbagai daerah datang ke Fakfak dan membutuhkan daun kelapa dalam jumlah sangat besar sebagai sarana penangkapan.

“Satu kelompok nelayan yang terdiri dari delapan kapal bisa membutuhkan hingga 30.000 lembar daun kelapa. Selama ini sebagian besar masih didatangkan dari Ambon,” jelas Bupati.

Penjelasan tersebut menarik perhatian Menteri Pertanian. Ia menilai gagasan pengembangan kelapa di kawasan pesisir Fakfak merupakan langkah cerdas karena mampu menghubungkan sektor perkebunan dengan aktivitas ekonomi nelayan.

“Ini pemikiran yang sangat baik. Kelapa tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga mendukung kegiatan nelayan ikan terbang. Di situ terjadi perputaran ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujar Menteri.

Sebagai bentuk dukungan awal, Menteri Pertanian menyetujui bantuan pengembangan kelapa bagi Kabupaten Fakfak dengan lokasi penanaman yang diprioritaskan di kawasan pesisir pantai.

Ia berharap program tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga dalam beberapa tahun mendatang kebutuhan daun kelapa tidak lagi dipasok dari luar daerah, melainkan dipenuhi oleh masyarakat Fakfak sendiri.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Kabupaten Fakfak dalam memperjuangkan pembangunan sektor perkebunan berbasis potensi lokal. Dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan pala dan kelapa diyakini akan membuka peluang ekonomi yang lebih luas, memperkuat kesejahteraan masyarakat, serta mendorong terwujudnya hilirisasi komoditas unggulan daerah.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, pala dan kelapa kini diproyeksikan tidak hanya sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai fondasi masa depan ekonomi Fakfak yang berkelanjutan dan berdaya saing. (TU.01)

Follow WhatsApp Channel tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Pekebun Pala Fakfak Wakili Papua Barat dalam Konsolidasi Pertanian Papua 2026 di Jakarta
Akhirnya Tembus 20 Besar Nasional, Duta Pala Fakfak Mega Kapaur Siap Harumkan Nama Daerah di PENAS XVII Gorontalo
Perkuat Mandatory ISPO dan Program B50, Fakfak Hadir Bersama 45 Peserta Se-Indonesia Dorong Sawit Berkelanjutan dan Perkebunan Rakyat
Cak Imin: Pekerja Adalah Aset Bangsa yang Wajib Dilindungi
Kemenhaj Sambut Fatwa Muhammadiyah soal Penyembelihan Dam di Tanah Air
Menbud–Dubes Jerman Bahas Pembaruan Kerja Sama Budaya dan Repatriasi Fosil Sangiran
Kemendagri dan Kementerian PU Percepat Pembangunan KIPP di Empat DOB Tanah Papua
Pemerintah Mulai Groundcheck 11 Juta Data PBI-JKN, Muhaimin: Harus Tepat Sasaran

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 06:40 WIT

Audience Hangat Bupati Fakfak dan Menteri Pertanian RI: “Pala dan Kelapa, Masa Depan Ekonomi Fakfak”

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:17 WIT

Lima Pekebun Pala Fakfak Wakili Papua Barat dalam Konsolidasi Pertanian Papua 2026 di Jakarta

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:49 WIT

Akhirnya Tembus 20 Besar Nasional, Duta Pala Fakfak Mega Kapaur Siap Harumkan Nama Daerah di PENAS XVII Gorontalo

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:11 WIT

Perkuat Mandatory ISPO dan Program B50, Fakfak Hadir Bersama 45 Peserta Se-Indonesia Dorong Sawit Berkelanjutan dan Perkebunan Rakyat

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:08 WIT

Cak Imin: Pekerja Adalah Aset Bangsa yang Wajib Dilindungi

Berita Terbaru