tagarutama.com, Jakarta – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menggelar “Sarasehan Kemerdekaan” dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Graha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral Jakarta, Selasa (11/8).
Dengan tema “Demokrasi dan Amanat Kemerdekaan Menuju Indonesia Adil dan Makmur,” sarasehan ini menjadi ruang untuk mendengarkan pendapat dan gagasan tokoh atau para ahli mengenai berbagai persoalan bangsa yang dihadapi saat ini.
Salah satu pendiri GNB, Sinta Nuriyah mengatakan Indonesia dalam kondisi tidak baik-baik saja. Ia melihat bangsa sedang tidak sehat dari dalam.
“Akhir-akhir ini bangsa kita dihadapkan pada kondisi yang sangat memprihatinkan: rakyat yang marah pada ketidakadilan, demonstrasi yang tidak kunjung henti, kelompok keamanan yang melakukan kekerasan berlebihan, tindakan-tindakan amoral yang kian hari kian marak dan merebak, bahkan sampai membawa korban jiwa,” kata Sinta Nuriyah, seperti dikutip dari Tirto.
Menurut Sinta Nuriyah, sensitivitas kemanusiaan sebagai cermin tingginya peradaban telah hilang. Kondisi seperti ini merupakan tantangan yang perlu dicari jalan keluarnya.
Dalam sarasehan tersebut, GNB menekankan makna kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga kebebasan untuk berpendapat, berkumpul, dan berserikat. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari kebodohan, kemiskinan, intimidasi, dan persekusi, serta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengelola negara.
Gerakan Nurani Bangsa (GNB) juga menegaskan bahwa berdasarkan amanat konstitusi, kemerdekaan harus mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh bangsa. Untuk itu, melalui sarasehan ini, GNB menyampaikan Delapan Pesan Kemerdekaan, yaitu:
1. Adil dan makmur adalah tujuan berbangsa dan bernegara, dengan prasyarat merdeka, bersatu, dan berdaulat.
2. Rasa aman warga adalah ukuran nyata kemerdekaan.
3. Demokrasi dan hukum harus kembali berpijak pada kedaulatan rakyat.
4. Profesionalitas TNI-Polri perlu dijaga sebagai fondasi demokrasi.
5. Sumber daya alam dan anggaran publik harus diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
6. Etika dan keteladanan pemimpin adalah fondasi yang tidak bisa ditawar.
7. Pendidikan, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia adalah investasi masa depan bangsa.
8. Masyarakat sipil adalah pelaku cipta-bersama demokrasi, bukan sekadar penonton.
Melalui delapan pesan tersebut, Gerakan Nurani Bangsa mengajak segenap elemen bangsa, penyelenggara negara, dunia usaha, tokoh agama, kalangan kampus, media, dan masyarakat untuk bersama-sama merawat cita-cita kemerdekaan menuju Indonesia yang adil dan makmur.
Sejumlah anggota Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang turut hadir antara lain : Dr. (HC) Nyai Hj. Sinta Nuriyah A. Wahid, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Franz Magnis-Suseno, SJ, Omi Komaria Nurcholish Madjid, Erry Riyana Hardjapamekas, Dr. (HC) H. Lukman Hakim Saifuddin, Pdt. Gomar Gultom, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Dr. Karlina Rohima Supelli, Pdt. Jacky Manuputty, Laode Muhammad Syarif, Ph.D., Dr. A. Setyo Wibowo, SJ, dan Alissa Q. Wahid. (TU-JM)
(Sumber :Press release GNB)











